Perihal Penderitaan dan Kebahagiaan

Kita tidak pernah meminta. Kita tidak pernah berharap untuk bisa menyakiti perasaan seseorang. Tapi Tuhan telah menetapkan. Tuhan memilih kita untuk menjalankan misinya. Kita dipilih untuk menyakiti hati orang lain. Dan serta merta pula kita menyakiti hati kita sendiri. Karena itu sudah satu paket. Ketika kita menyakiti hati orang lain maka otomatis pula hati kita juga akan tersakiti. Karena pada hakikatnya hati selalu ingin melakukan kebaikan bukan sebaliknya. Maka memang Tuhan ingin menyakiti hati kita dengan jalan kita menyakiti hati orang lain. Meskipun menyakiti tidak harus kita artikan secara praktis sebagai membuat luka.

Menyakiti memang selalu sakit. Tapi sakit bukan berarti selalu pedih/luka/penderitaan. Ibarat anak yang diimunisasi tentu setelahnya akan panas tinggi. Ya itu kita sebut sakit panas karena virus sedang masuk dalam tubuhnya. Tapi setelah itu tubuh si anak akan membentuk antibodi untuk melakukan perlawanan alhasil anak resisten/kebal terhadap virus tersebut. Sama dengan rasa sakit yang dialami oleh orang orang yang kita sakiti dan diri kita sendiri. Pedih? iya, luka? tentu, merasakan penderitaan? pasti. Diperbolehkan menangis, dipersilahkan mengutuk kehidupan, bahkan dilegalkan untuk merasa putus asa. Percayalah It just the proscess. Namun kembali lagi kita akan dibuatnya lebih kuat dari sebelumnya. Kita akan dibuatnya mampu menghadapi jenis luka semacam itu lagi bahkan dengan tingkatan yang lebih tinggi. If we can survive of course we go to next level. And also you will strongger than before.

Perihal ketakutan yang muncul akan datangnya rasa sakit itu lagi, kembali di campakkan, kembali di tinggalkan itu adalah bagian dari proses kekebalan. Anggaplah diri ini masih panas pasca imunisasi tadi. Tapi yakinlah semua akan berakhir bersama dengan berakhirnya ketetapan waktu penderitaanmu. Setiap penderitaan memiliki batas waktunya masing-masing dan akan berakhir tepat pada waktunya. Ibarat snack potato ia memiliki massa kadaluarsa. Ketika masa kadarluarsa itu datang maka selesai sudah. Semua selesai. Jika best before di kemasan tertulis 17 Juli 2019 dan sekarang adalah 17 Juli 2017 maka massa berlaku penderitaan adalah 2 tahun. Ah jangan khawatir masalah 2 tahun ini. Ini bukanlah waktu yang panjang. Jika usia rata-rata orang adalah 60 tahun maka masih ada 58 tahun atau 98,8 ℅ kebahagiaan setelah massa ini berakhir. Belum lagi di masa penderitaan tersebut tidak selalu hari-hari berwarna kelabu. Bahkan seseorang yang lelah tervonis kanker stadium 4 yang seharusnya lebih banyak merasakan penderitaan malah merasakan kebahagiaan. Bagaimana bisa begitu? Karena disaat ia sakit kanker justru perhatian keluarganya tertuju sepenuhnya untuk dirinya. Hal yang tidak pernah ia dapatkan selama kehidupannya. Anak-anaknya yang setiap hari sibuk bekerja, istrinya yang sering pergi arisan bersama teman-temannya disaat ia jatuh sakit semua ada mendampinginya untuk memberikan kasih dan cinta setiap harinya. Ia pun merasa bahagia dalam penderitaannya.

Terkait kebahagiaan ia adalah sisi lain dari penderitaan. Jika kita siap bertemu dengan kebahagiaan berarti saat itu juga kita siap untuk bertemu penderitaan. Siap tidak siap, mau tidak mau, suka tidak suka itu sudah menjadi satu kesatuan. Jika kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda maka layaklah sudah jika penderitaan adalah kebahagiaan yang tertunda dan begitu juga sebaliknya kebahagiaan adalah penderitaan yang tertunda. Jadi mari kita tegarkan jiwa kita untuk siap dalam setiap massa menghadapi penderitaan dan kebahagiaan meskipun itu akan muncul dalam waktu yang bersamaan. Karena ibarat dua sisi mata uang mereka adalah kekasih abadi. Jika kita menginginkan kebahagiaan maka sepaket pula dengan penderitaan begitu pula jika kita terpuruk dalam penderitaan artinya itu juga sepaket dengan kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan tidak ada penderitaan tanpa kebahagiaan. Banyak orang bijak mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya hidup ketika kita tidak pernah merasakan susah. Itu benar adanya karena ketika kita tidak pernah mengecap rasa penderitaan maka tidak akan pernah kita dapat menikmati apa itu kebahagiaan. Tidak ada malam jika tidak ada siang. Tidak ada baik jika tidak ada buruk. Tidak ada pria jika tidak ada wanita. Tidak ada suami jika tidak ada istri. Tidak ada kenyang jika tidak ada lapar.Tidak ada hidup jika tidak ada mati. Tuhan telah menciptakan dengan segala kesempurnaannya dan kita memang diciptakan berpasang-pasangan termasuk kebahagiaan dan penderitaan. Selamat menderita dan selamat merasakan kebahagiaan.

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
(QS.Yāsin 36:36)

Surabaya, 17 Juli 2017
Saila Azkiya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *